9 Januari 2010

Ketika Harus Bersedih

Posted in Bersedihlah pada 13:31 oleh >>s

Bertasbihlah

Assalammualaikum Wr Wb

Untuk sahabatku yang bersedih di malam minggu ini karena ditinggal kekasih , pacar, atau jomblo mungkin, kalau memang seperti itu betapa mudah dan kecilnya kita untuk menangisi hal tersebut.Mari kita renungi bersama-sama  artinya bersedih .
Benarkah kesedihan selalu dekat dengan kegetiran, ketidak-kuatan, kesengsaraan, bahkan ketidak berdayaan? Jika memang demikian adanya, betapa dunia ini akan selalu penuh dengan air mata, langit penuh dengan awan mendung, dan  kabut senantiasa menjadi teman. Akan tetapi, ternyata tidaklah demikian yang dimaksudkan,  Allah berfirman:.
Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q .S Al Baqarah, 2:38)
Kesedihan adalah pintu mendekat kepada Allah dan bukan sebaliknya. Jika datang hanya kekhawatiran, tentu bukan keimanan yang diisysratkan oleh Allah. Allah memberi  rasa dan naluri setiap insan. Naluri inilah yang oleh Allah dititipkan melalui hadist Rasulullah saw. :
Tidaklah seorang mukmin ditimpah  sebuah kesedihan,  kegundahan,  dan kerisauan,  kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya

Hadist tersebut berkaitan erat dengan kondisi kaum mukmin yang bersedih manakalah mereka tidak memiliki harta yang dapat mereka belanjakan untuk Allah dan tidak memiliki kendaraan yang dapat mereka pergunakan berjihad di jalan Allah. Ini juga sekaligus merupakan peringatan bagi orang-orang munafik yang tidak merasa sedih dan justru gembira manakala tidak mendapatkan kesempatan untuk berjihad bersama Rasulullah saw.
Sungguh, bersedih merupakan salah satu akhlak terpuji apabila disebapkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan kepada Allah atau dikarenakan tertawaan dalam kemaksiatan. Kesedihan seorang hamba yang disebapkan oleh kesadaran bahwa kedekatan dan ketaatan dirinya kepada Allah yang sangat kurang menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya-Nya.

Bagaimana Rasulullah bisa mengatasi kesedihannya sebagai insan manusia yang sama seperti kita? Rasulullah juga bersedih dan menangis ketika kehilangan anak, Ibrahim, yang balita. Beliau juga amat bersedih manakala kehilangan sahabatnya yang gugur sebagai syuhada. Beragam peristiwa juga telah memilukan hatinya. Rasa khawatir yang melebihi manusia biasa bahkan menjalar  dalam seluruh aliran darahnya karena memikirkan umat-umatnya. Ini yang digambarkan oleh kisah keteladan beliau menjelang wafatnya dengan berucap lirih, “Ummati…… ummati…………ummati…..”
Sedih adalah fitrah. Ketika fitrah itu menjadi keimanan, maka air mata bukan lagi menjadi jembatan pemisah dengan Allah, melainkan harus menjadi sahabat dan jembatan yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Mari kita Insyafi bahwa ketundukan terhadap segenap skenario Allah-lah yang menjadi kesejatian keikhlasan dan keridhaan pada diri kita dalam menjalani hidup.  Wallahua’lam.

Dikutip dari buku “BERSEDIHLAH “ (Akmad Izzan, A. Abdul Qodir)

Cap lien
Sangi keruani…. Saling kerawati

Iklan