24 Mei 2010

Sekuntum Cinta Dari Negeri Sakura

Posted in Sekuntum Cinta Dari Negeri Sakura tagged pada 11:04 oleh >>s

Oleh:Lia Octavia

Ikuko menatap butiran-butiran salju yang luruh di luar jendela
apartemennya.
Butiran salju yang melayang-layang diterpa angin musim dingin dan kemudian
jatuh ke tanah dan menyatu dengan hamparan putih yang sudah lebih dulu
menyelimuti jalan. Dingin terasa menusuk tulang. Sambil bergetar, Ikuko
membaca kembali surat di tangannya.

“Ikuko-san, pulanglah, Nak. Sudah berbulan-bulan ayahmu tidak pulang.
Mungkin ia sedang ada masalah di pekerjaannya. Ibu rindu padamu. Salam
kangen. Ibu.”

Ikuko mendengus. “Masalah di pekerjaan? Semua orang tahu apa yang
dilakukan
Ayah. Tidak heran bila suatu saat nanti tiba-tiba muncul seorang bayi
mungil
yang kelak memanggilku kakak.” Diremasnya kertas itu kuat-kuat

“Ibu memang seorang wanita kuat. Seumur hidupnya diabdikan untuk melayani
Ayah dan sekaligus menerima dengan sabar semua perlakuan kasar Ayah,”
Ikuko
terbayang semua yang dialaminya. Ayahnya seorang pegawai rendahan yang
suka
mabuk-mabukan. Dan itulah salah satu alasan Ikuko pergi meninggalkan
kampung
halamannya dan pindah ke Tokyo.

Hidup sudah tidak berarti apa-apa lagi di
bawah rasa takut akan pukulan ayahnya. Pergi jauh-jauh dari Kyoto, itulah
cita-cita Ikuko sejak ia beranjak remaja.

“Apa yang harus kulakukan?” Ikuko memijat keningnya yang seperti ditimpa
ratusan ton beton. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tumpukan
buku-buku
di atas meja. Buku-buku yang dipinjamkan oleh seorang sahabat di Tokyo
Islamic Centre. Buku-buku itulah yang selalu menemani malam-malam
Ikuko yang
panjang dan penat setelah seharian bekerja di kantor.

“Perkenalkan saya Ardiansyah dari Indonesia. Saya biasa dipanggil
Ardi. Saya
mahasiswa pasca sarjana Fakultas Elektro di Keio University dan saya aktif
di Tokyo Islamic Centre selepas jam kuliah saya,” seorang laki-laki muda
berpakaian rapi dan tampak serius menyapa Ikuko ketika tanpa sengaja
mereka
bertemu di perpustakaan umum. Ikuko sedang mencari buku-buku masakan
di sana
saat itu.

“Tokyo Islamic Centre? Saya belum pernah mendengar tentang perkumpulan itu
selama saya di Tokyo. Maklum saya baru dua tahun berada di sini. Nama saya
Ikuko dan saya bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta,” jawab
Ikuko sambil memandang tumpukan buku-buku yang dibawa Ardi.

Ardi tersenyum sopan. “Tokyo Islamic Centre itu bukanlah sebuah
perkumpulan.
Tetapi itu sebuah tempat dimana kami, umat muslim beribadah dan mengadakan
berbagai kegiatan di sana.”

“Muslim?” tanya Ikuko heran. Hampir seumur hidupnya ia baru tahu bahwa ada
perkumpulan bernama muslim.

“Ya. Kami beragama Islam dan Islam itu bukan semacam perkumpulan atau
organisasi,” jawab Ardi sopan.

“Agama Islam? Sepertinya menarik. Sejak kecil saya terbiasa dibawa
sembahyang di kuil di Kyoto oleh ibu saya. Walaupun saya juga tidak
mengerti
apa sebenarnya yang kami lakukan di sana,” rasa ingin tahu Ikuko perlahan
mulai muncul. “Hmm maaf, apakah Ardi-san sedang buru-buru? Kalau
tidak, saya
ingin sekali mendengar tentang agama Islam itu.”

Dan sejak pertemuan di perpustakaan itu, Ardi menerangkan berbagai hal
tentang Islam dan meminjamkan buku-buku agama Islam pada Ikuko. Ikuko
sangat
bersemangat. Kadang-kadang Ikuko berkunjung ke Tokyo Islamic Centre sambil
membawakan berbagai macam makanan untuk Ardi. Ardi dan teman-temannya
menyambut Ikuko dengan baik. Ikuko merasa nyaman berada di sana.
Satu-satunya tempat di mana ia diterima dengan baik, apa adanya, dan yang
lebih penting, tidak ada lagi ketakutan akan pukulan-pukulan ayahnya serta
mimpi-mimpi buruk yang kerap hinggap dalam tidurnya.

Ikuko menemukan dunia baru di sana, di tengah para mahasiswa Indonesia
yang
sedang melanjutkan studi mereka di Tokyo. Selain agama Islam, Ikuko juga
belajar bahasa Indonesia. Pernah suatu kali seorang ustadzah muda yang
baru
datang dari Jakarta bertanya pada Ikuko; mengapa Ikuko tertarik belajar
agama Islam. “Orang-orang di perkumpulan ini baik hati dan ajaran di
perkumpulan ini baik,” jawab Ikuko polos. Saat itu ia masih menganggap
Tokyo
Islamic Centre itu sebuah perkumpulan.

Tidak seorangpun yang melarang Ikuko menyebut tempat itu sebagai
perkumpulan. Dengan sabar, ustadz-ustadz muda di sana mengajari Ikuko
berbagai hal. Buku-buku agama Islam bertebaran memenuhi apartemen
Ikuko yang
kecil di pinggiran Tokyo. Ia masih mencari, tetapi belum mendapat apa yang
dicarinya. Hingga surat lusuh dari ibunya itu mengubah segalanya.

Pulang ke Kyoto adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Ikuko.
Kepergian
Ikuko ke Tokyo membuat Ibu menjadi bulan-bulanan kemarahan Ayah. Ayah
menganggap Ibu tidak becus mengajar anak sehingga Ikuko pergi dari rumah.
Belum lagi wanita-wanita dengan parfum murahan yang dibawa Ayah ke rumah.
Membayangkannya saja membuat perut Ikuko mual.

“Pulanglah, Ikuko-san. Kasihan ibumu sangat merindukanmu. Masih ingat apa
yang diajarkan Ustadz Ahmad beberapa waktu lalu bahwa kita harus
menghormati
ibu kita,” kata Ardi ketika Ikuko menceritakan tentang surat itu.

“Tetapi aku takut pulang ke Kyoto, Ardi-san. Aku takut aku tidak dapat
lagi
keluar dari sana dan terperangkap dalam mimpi buruk sepanjang hidupku. Aku
tidak dapat lagi bertemu denganmu dan teman-teman di sini. Aku tidak mau
surat ini merampas semua kebahagiaan yang ada dalam genggamanku saat ini,”
ujar Ikuko sambil merobek-robek surat itu.

“Allah memerintahkan kita untuk menghormati Ibu sebelum yang lainnya. Ia
yang mengandung dan bertarung nyawa melahirkan kita di dunia ini. Paling
tidak, ia pantas mendapat sedikit penghormatan darimu, Ikuko,” Ardi
menghela
napas panjang. Ia menatap wajah Ikuko yang berkerut-kerut menahan marah.
“Hanya Allah yang bisa membolak-balik hatinya,” bisik Ardi dalam hati.
Sudah
hampir setahun Ikuko belajar agama Islam di Tokyo Islamic Centre dengan
kemauannya sendiri, tetapi sepertinya hidayah Allah belum menyapa
gadis itu.
Hidayah itu memang mahal.

“Kalau begitu, Ardi-san, mohon temani aku pergi ke Kyoto menjenguk Ibu
selama beberapa hari. Bila ada Ardi-san, Ayah tidak akan berani
macam-macam
dan tidak ada yang bisa menahanku untuk tinggal di sana,” itulah keputusan
Ikuko malam itu. Dan keesokan harinya, Ardi dan Ikuko sudah berada dalam
kereta api yang membawa mereka menuju Kyoto.

********

Musim dingin sudah menyelimuti Kyoto dengan tirai-tirai putihnya yang
sedingin es dan seburam kaca tua. Langit berwarna abu-abu kemerahan ketika
Ardi dan Ikuko tiba di pinggiran kota Kyoto. Kuil-kuil berdiri membisu di
tengah rimbunan pohon-pohon yang kaku berselimutkan salju. Loncengnya
berdentang sekali dua kali memecah kesunyian bagaikan lonceng kematian
yang
siap mencabut nyawa-nyawa yang berada dalam penjara kesunyian.

Mereka tiba di rumah Ikuko saat senja hampir tiba. Rumah itu sedingin
gerimis. Sunyi. Sepi. Sungai kecil yang mengalir di sampingnya turut
membeku. Tidak ada seorangpun di beranda. Ikuko membuka pintu kayu dan
masuk
ke dalam seraya memanggil ibunya. Keadaan di dalam rumah tak kalah
dinginnya
dengan cuaca di luar. Debu menyelimuti perabot rumah. Ikuko berjingkat
perlahan memasuki kamar ibunya. Tak sampai semenit, terdengar teriakan
histeris Ikuko.

Ardi segera menerobos masuk ke kamar itu. Ikuko menangis keras di atas
tatami lusuh di samping sebuah tilam kusam. Ia menutup wajahnya sambil
terus
menangis. Di atas tilam itu, Ardi melihat sesosok wanita tua yang hampir
mengerut saking kurusnya. Tidak ada tanda-tanda nafas kehidupan dari
tubuhnya yang ringkih itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Ardi
mengucap pelan. Sekuntum Al Fatihah perlahan terdengar dari mulutnya.

Bismillahirahmaanir ahiim, Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, Ar-Rahmaanir
Rahiim, Maaliki yaumid diin, Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, Ihdinas
siraatal mustaqiim, Siraatal ladziina an’amta ‘alayhim gayril magduubi
‘alayhim wa laddaalliin. Amiin…

Ikuko bergetar mendengar ayat-ayat Surat Al Fatihah yang dibaca Ardi. Ia
belum hapal ayat itu dan ia masih belum mengerti artinya. Hangat
menyelimuti
seluruh relung jiwanya. Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya
yang terdalam. Jalan yang lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri
dan kanannya dan juga di atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat.
Seluruh tubuhnya berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak bermimpi.
Cahaya itu ada di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak
mau bangun lagi. Jalan itu… Jalan yang lurus.

“Ardi-san, aku ingin mengucapkannya. Aku ingin masuk Islam sepertimu dan
teman-teman di Tokyo Islamic Centre. Aku ingin berada di jalan itu,
Ardi-san. Jalan yang lurus,” dengan berlinang air mata, kata-kata itu
berhamburan dari mulut Ikuko. Ardi tercengang. Berbulan-bulan Ikuko
belajar
agama Islam di Tokyo, baru saat ini keinginan itu terlontar darinya.
Rencana
Allah memang seringkali sukar dipahami manusia.

Dan keesokan harinya, setelah pemakaman Ibu yang sederhana, di antara
kuil-kuil dingin yang membeku dan di tengah musim dingin yang kian
menggigit
kota itu, Ikuko mengucapkan dua kalimat syahadat. Ardi menjadi saksi
melangkahnya Ikuko ke dalam gerbang cahaya-Nya di hadapan seorang
ustadz tua
pengurus musholla kecil di pinggiran Kyoto.

“Ashyadu alaa ilaaha ilallahu… wa ashadu anna muhammadar rasulullah…Hamba
bersaksi, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan hamba
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah…”

Sekuntum cinta telah mekar di sana, di negeri sakura yang flamboyan. Saat
Sang Cinta memperbolehkan Ardi menghantar Ikuko ke dalam cahaya-Nya yang
abadi.

http://dtjakarta.or.id/

Iklan